RESUME KISAH NABI 1-10
Keadaan
jaizah Arab pada saat sebelum kelahiran Rasullulah SAW yaitu awalnya, mayoritas
Bangsa Arab mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS untuk beribadah kepada Allah SWT. Seiringnya
waktu, dengan kelalaian bangsa Arab Tidak lama penduduk kota mekah beralih
menjadi menyembah berhala-berhala.
Keadaan
Sosial, Eknomi, dan Politik saat itu sangat miris, para kaum wanita tidak lagi
di hargai bahkan di jadikan budak dan bahan mainan bagi para kaum laki-laki,
kemiskinan tetap mewarnai, Pertikaian anatar Suku pun sering terjadi.
Tidak
lama, akhirnya Mekah di pimpin oleh Hasyim, Di bawah kepemimpinannya, Mekah
berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Di balik kemajuannya saat itu ada kemuduran
yang terjadi pada bangsa Arab, saat itulah dijuluki masyarakat jahiliyah atau
masyarakat kebodohan, Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul
terakhir-Nya di tempat ini.
Masa
kejahiliahan Orang-orang Arab ia percaya pada takhayul, mereka juga menyembah
berhala-berhala berbentuk patung sebagai Tuhan yang di percayai, Gemar
melakukan perjudian dan minuman arak, Perampokan yang kejam dan tidak sopan pun
terjadi di Bangsa Arab.
Setelah
meninggalnya Hasyim kepemimpinan dikota Mekah di pegang oleh adik Hasyim
bernama Al-Mutholib. Mekah saat itu kedatangan
seorang anak dari kota Yastrib bernama Syaibah putra dari Hasyim dan Salma,
Hasyim meninggal saat Syaibah dalam kandungan ibunya. Al- Mutholib membawa
Syaibah ke Mekah untuk tinggal bersamanya dan melajutkan kepemimpinan dari
pamannnya Al-Mutholib. saat ini Syaibah di Mekah terkenal namanya dengan
sebutan Abdul Mutholib yang nantinya akan menjadi kakek Nabi Muhammad SAW.
Setelah
tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka Mekah sebagaimana
Hasyim, bapaknya. Pada zaman pemerintahannya, Abdul Muthalib melakukan sebuah
perbuatan yang akan dikenang orang sepanjang zaman. Abdul Muthalib adalah
pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekah. Setelah ratusan
tahun Sumur Zam-zam tertimbun, Ia ingin mengembalikan air zam-zam teresebut
dapat terpancar kembali seperti saat kisah Ismail AS. Abdul Mutholib bersama
anaknya bernama Harits terus menggali dan mencari sumber air zam-zam yang dulu
perenah ada.
Abdul
Muthalib bernadzar, "Kalau saja aku mempunyai 10 anak laki-laki, kemudian
setelah semuanya dewasa, aku tidak memperoleh anak lagi seperti ketika sedang
menggali Sumur Zam-zam, maka salah seorang diantara 10 anak itu akan kusembelih
di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan." Takdir memang menentukan demikian.
Abdul Muthalib akhirnya mendapat 10 orang anak laki-laki.
Setelah
semua anak berangkat dewasa, ia tidak memperoleh anak. Dipanggilnya kesepuluh
orang anak itu, termasuk si bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya.
Di hadapan patung dewa tertinggi Ka'bah, juru qidh (Nanak panah) meminta setiap
anak menulis namanya masing-masing di atas qidh. Kemudian, ia mengocok anak
panah tersebut di hadapan berhala Hubal. Nama anak yang keluar adalah Abdullah.
Melihat itu, serentak orang orang Quraisy datang dan melarangnya melakukan
perbuatan itu.
Malam
harinya, Abdul Mutholib bermimpi akan keluarnya air zam-zam, esok harinya
bergegas kembali bersama Harist anaknya untuk menggali dan mencari sumber mata
air zam-zam. Dengan kegigihannya yang tidak menyerah akhirnya berhasil sumber
mata air zam-zam ditemukan. Melihat penemuan itu, orang-orang Quraisy datang
berbondong-bondong.
Abdul
Muthalib membawa Abdullah menuju sebuah
tempat di dekat sumur Zam-zam, masyarakat semakin keras menghalangi Abdul
Muthalib melakukan niatnya menyembelih Muhammad. Akhirnya, kekerasan hatinya
pun luluh. Mereka berunding mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Ditemukanlah
jalan keluarnya yaitu dengan menggantikan tebusan seratus unta.
Saat
Abdul Muthalib memimpin Mekah, ada sebuah peristiwa dahsyat. Kejadian ini
bermula dari Yaman, sebuah negeri yang terletak jauh di sebelah selatan Mekah.
Saat itu, Yaman diperintah oleh seorang penguasa bernama Abrahah Al Asyram.
Abrahah ingin menghancurkan Ka’bah. sAbrahah geram marah, Ia membawa pasukan
gajah untuk menyerbu Mekah menghancurkan Ka’bah.
Kehancuran
Abrahah dan pasukannya di kalahkan dengan burung-burung. Burung-burung itu
menjatuhkan batu-batu menyala ke arah pasukan gajah. Atas izin Allah Semua pasukan
Abrahah termasuk Abrahah mati. Peristiwa ini Allah abadikan dalam surat Al Fil.
Lalu
setelah itu terjadilah pernikahan Abdullah dengan Aminah. Tidak lama dari
pernikahannya Abdullah izin ke Aminah untuk berniaga di Yaman supaya menambah penghasilan.
Saat
perjalanan pulang Abdullah jatuh sakit tidak kuta melanjutkan perjalannya
hingga singga di tempat rumah saudara ibunya di Yastrib, dan di situlah
Abdullah menghembuskan nafas terakhirnya.
Pada
hari Senin pagi tanggal 12 Rabiul Awwal pada tahun yang sama dengan penyerbuan
Abrahah (tahun gajah), Aminah melahirkan seorang bayi laki-laki. Dengan penuh rasa syukur, Abdul
Mutholib menggendong cucunya berthawaf, mengelilingi Ka’bah. Ia memberi nama
Muhammad. Muhammad disusui Tsuwaibah budak perempuan Abu Lahab. Hanya beberapa
hari Muhammad disusui oleh Tsuwaibah.
di tulis oleh:Sunanah
@ama_anah_
di tulis oleh:Sunanah
@ama_anah_
Sumber Referensi:
Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, judul asli Arahiqul makhtum Syekh Syafiyurrahman Mubarakfury, di terjemahkan Abu haidir, Kantor dakwah dan bimbingan bagi pendatang Al-Sulay, Riyadz, KSA.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar